Halaman

Rabu, 30 Mei 2012

Hal yang Kita Sia-Siakan

PERBUATAN yang kita buat....
SIA-SIA tanpa  KETULUSAN dari hati

PERJUANAGAN yang kita lakukan.....
SIA-SIA karena tidak ada TUJUAN yang jelas

PENGETAHUAN yang kita miliki…..
SIA-SIA tanpa TINDAKAN yang bermanfaat

PENGORBANAN yang kita buat....
SIA-SIA karena ingin mendapatkan KEHORMATAN

KEMARAHAN yang kita ekspresikan....
SIA-SIA tanpa  PIKIRAN JERNIH

CINTA yang kita bagi...
SIA-SIA karena berasal dari NAFSU semata

KEKAYAAN yang kita dapatkan....
SIA-SIA karena dihabiskan bukan untuk orang lain

KEGAGALAN yang kita hadapi...
SIA-SIA karena menjadi alasan untuk putus asa

KESENGSARAAN yang kita temukan...
SIA-SIA karena tidak membuat kita kuat

KESUKSESAN yang kita peroleh....
SIA-SIA karena membuat kita lebih bodoh

SUKACITA yang kita dapatkan....
SIA-SIA karena kita tidak bersyukur

PELAJARAN dan KATA-KATA yang kita dengar dan baca
SIA-SIA karena hanya terlintas dalam ingatan  kita


Kunci


Kunci Kemuliaan adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Kunci Rizki adalah usaha dibarengi dengan istigfar dan taqwa
Kunci Syurga adalah tauhid
Kunci Iman adalah membaca ayat-ayat Allah dan tanda-tanda kebesaran yang ada pada semua makhluk-Nya
Kunci kebaikan adalah jujur
Kunci hidupnya kalbu adalah merenungi al-Quran, mendekatkan diri kepada Allah di penghujung malam hari dan meninggalkan dosa-dosa
Kunci Ilmu adalah tidak malu untuk bertanya dan mendengar dengan baik
Kunci Kemenangan dan Keberuntungan adalah Sabar
Kunci kebahagiaan adalah taqwa
Kunci Menambah nikmat adalah bersyukur
Kunci menginginkan pahala akhirat adalah zuhud terhadap duniawi
Kunci keberhasilan adalah Do'a

Surat Buat Ayah


Teruntuk Ayahanda yang kurindukan wajah damainya;

Ayah, aku kini telah menjadi manusia, setelah sekian waktu hanyalah cairan dan gumpalan kecil yang lemah. Aku menjelma manusia kecil yang segala sesuatunya masih nestapa. Tetapi, Ayah, aku telah bersaksi atas keteguhan fitrahku. Rabb-ku bertanya “alastu birabbikum”, dan aku jawab dengan sempurna “Balaa syahidna”…

Itu artinya, aku telah bertekad untuk lahir dan hidup sebagai penyembah-Nya, Abdi-Nya yang tak kenal lelah memperjuangkan kebenaran-Nya. Aku sering mendengar bunda khusyu’ mengaji, di kala ia merasa letih dan hatinya sepi. Aku dengar ayat-Nya tentang istri Imran yang berjanji, bayi yang dikandungnya dinadzarkan sebagai anak suci pengabdi ilahi. Maka sebab itulah Ia lahir dengan nama Maryam, seorang hamba pengabdi. 


Wajah mungilnya berseri, lalu diselimuti dan dikirim ke Baitul Maqdis yang diberkati. Ia hidup dalam naungan kasih sayang dan cinta orang-orang yang taat. Ia dibesarkan bersama lantunan taurat dan nasehat-nasehat.Ayah, aku iri. Andai saja engkau manjadikanku seorang anak pengabdi ilahi, seperti Maryam yang namanya harum mewangi. Aku ingin engkau mencintaiku sebagai titipan-Nya, dengan skenario dan arahan dari-Nya. Bukan makhluk kecil yang menjadi alat ambisi. Bukan sebagai boneka yang dipajang sana-sini.

Tapi Ayah, aku dengar suara percakapanmu di sore hari. Engkau mengandaikan aku menjadi seorang yang berprestasi. Engkau merencanakanku menjadi seorang kaya berdasi, seorang pejabat yang disegani, dan seorang tokoh yang digandrungi. Engkau merencanakanku sekolah di tempat mewah bergengsi. Engkau tak pernah mencita-citakanku sebagai pengabdi sejati. Engkau tak pernah menginginkanku tinggal di mihrab rumah suci… engkau bahkan tak akan mengijinkanku pergi memperjuangkan kalimat-Nya yang tinggi.Aku ingin segera lahir, Ayah, dengan hasrat terbelenggu. Dengan tangis sendu.

Cium sayang dari anakmu yang selalu kau rindu.



Untuk yang Disana Menanti


Keterbatasan jarak dan bahasa buat ku pesimis!
keyakinan yang ku rasa hadir begitu saja dan buatku sangat begitu yakin...
Ketika aku ditanya kenapa tak satupun bisa ku jawab karena semua hadir perlahan dan pasti begitu yakin..
aku harap ni bukan permainan...!


Sungguh aku teringat kamu manakala anak panah meluncur deras darimu..
putihnya salju India pun tertetesi darahku..
ingin ku hadang setiap tebasan pedang..
Karena kilatan pedang-pedang itu laksana kilauan gigimu saat tersenyum..

Terkadang segala sesuatu tampak sebagai kebencian pada diri seseorang..
Padahal baginya adalah sebuah ketetapan jiwa..

Maaf jika puisi berdiri di atas pasar yang sedang lesu memanggil -manggil siapa gerangan yang bersimpati kepadaku,,
Mengapa tak kulihat ia jika ku datang menulisnya..
Sajak meratap dan ratapan syair membuatku pilu..
Sudah coba kutulis satu bait tentang cintamu..
Wahai pemuncak tahta cinta!
MaLu-malu syair menggangukkan kepalanya ke arahku sambil sesekali menyeka air mata,,

Cukuplah sebagai kesedihan,,
aku tinggal di suatu negeri..
di tinggal jauh kekasihku..
Ku arahkan pandanganku ke seluruh negeri,,
namun tak kulihat.. Wajaah kekasih yang ku damba...

Kau dan Aku





Tidaklah semulia Muhammad,
Tidaklah setakwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Ayub,
Atau pun segagah Musa,
Apalagi setampan Yusuf

hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita,
Membangun rumah tangga
yang sakinah

Menjadi pelindung,
Aku penghuninya,
Seorang Nahkoda kapal,
Aku navigatornya,
bagaikan balita yang nakal,
Aku penuntun kenakalannya,
Saat menjadi Raja,
Aku nikmati anggur singasananya,
Seketika menjadi bisa,
Aku lah penawar obatnya,
Seandainya masinis yang lancang,
sabarlah memperingatkannya...

Aku bukanlah Khadijah,
yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar,
yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman,
Yang berusaha menjadi perhiasan dunia..


Kekuatan Abstrak

Terkadang sesorang menyepelekan hal abstrak..

Padahal betapa besar dukungan realitas abstrak itu bagi kehidupan seseorang...

Banyak orang tumbuh karena mendapat atensi, kemungkinan, rekomendasi, kesempatan, promosi dan doa...
Doa itu bentuknya tidak ada tetapi nyata...

Semua kata -kata itu adalah soal-soal yang tidak nyata jika cuma indra saja ukurannya...

Diluar indra mereka adalah kata-kata yang real, besar sekali peranannya.

Kemungkinan itu tak bisa dilihat dan diraba tetapi ia benar benar memperkembangkan hidup kita begitu juga dengan rekomendasi apalagi doa, kekutannya sering jauh lebih besar dari ijazah resmi. banyak posisi penting diperuntukkan untuk seseorang bukan karena ijazahnya melainkan karena karena ia direkomendasikan oleh sekitarnya...

Rekomendasi itu abstrak tapi nyata peranannya...

Kebosanan ku

Ada banyak hal yang ingin aku lepaskan di dalam diriku, namun selalu kutahan. Kemarahan yang bertumpuk, selalu saja aku tahan. Kebosanan, juga aku tahan. Rasa tidak suka kepada seseorang juga aku tahan. Aku menahan segalanya sendiri agar orang-orang di sekelilingku tidak sakit hati. Aku tidak ingin mengumbar egoku, mengumbar rasa yang mungkin saja melegakan namun ternyata menyakiti semua orang. Aku tidak ingin seperti itu.

Aku bosan. Aku marah. Aku kesal. Aku ingin segalanya segera usai. Namun, aku tidak berani jujur kepada setiap orang, karena perasaan yang hinggap itu cuma sementara. Ada kalanya kita butuh rehat sejenak, mencoba menjauh dari semua yang berada di dekat kita agar kita mampu mengambil jarak. Agar kita memiliki kerinduan ketika telah bersama mereka kembali.

Namun, rindu tidak juga datang. Keadaan semakin luntur. Yang tersisa cuma rasa bosan.
Andai kita mampu jujur sesama kita, bahwa kebosanan bukanlah suatu aib. Andai aku, mereka, dia, dan mungkin kamu bisa saling jujur antara sesama kita. Tentang rasa bosan dan penat di antara kita, dan kita mencoba saling terbuka tentang rasa bosan itu. Dan tak perlulah rasa sakit hati mendarah di dalam dada ketika kita tahu bahwa ternyata kitalah yang menjadi obyek rasa bosan tersebut.

Seseorang terkadang rindu dengan suasana baru. Kehidupan baru. Atau boleh jadi, rindu terhadap kumpulan cerita romansa masa lalu. Untuk itulah kita mengenang bahwa terkadang dengan mengingat, rasa bosan akan hilang dengan sendirinya.

Aku merasa sangat bosan. Saat ini. Sekarang juga.

Masa lalu yang aku coba bayangkan, atau masa depan yang aku coba khayalkan, tidak memberi faedah terhadap rasa bosan yang menyerang. Aku mengerti, darimana asal bosan itu hadir. Tetapi, aku tidak bisa katakan dengan sejujur-jujur perkataan mengapa dia mampu hadir, dan mengapa aku tidak sampai hati untuk mengatakan kepada dia yang menjadi sumber bosanku. Aku paham, ini adalah perasaan temporer.

Aku bukan pemain catur yang handal. Yang mampu me-reka dengan bijak sepuluh langkah ke depan dalam hidupku. Bukan pula seorang plainer, yang mampu merencanakan kehidupan berpuluh-puluh tahun ke depan hendak menjadi apa. Aku cuma seorang manusia yang berjalan sesuai dengan jalannya. Aku mengikuti ke mana arah jalanku menuju, karena toh, setinggi-tinggi aku terbang, aku akan kembali pula kepada Tuhan.

Aku tidak pernah berani mengambil keputusan. Ketika ucap kata kebosanan aku ceritakan, apa yang akan terjadi dengan hati setiap orang yang mendengarkan. Aku lebih senang berbicara dengan bahasa bersayap. Orang-orang menjadi tidak paham, bahwa merekalah yang sedang aku ceritakan. Di depan mereka, di hadapan muka mereka, aku ceritakan tentang diri mereka sendiri. Dan mereka masih mampu memberikan saran tentang apa yang harus aku lakukan, tanpa mereka mau mengeja saran yang sama dalam kehidupan mereka.

Kehidupan adalah siklus. Sebuah putaran tanpa pangkal dan ujung. Hari ini engkau membenci, esok mencintai, esok menyakiti, esok menghargai, esok engkau ingkari, esok khianati, esok sebenci-benci, esok kembali mencintai.

Beberapa manusia adalah lakon yang tidak memiliki suara tertahan. Mereka berjalan dengan kebencian di sekeliling mereka. Mereka lebih menghargai diri mereka sendiri dibandingkan menghargai orang lain. Kadang aku merasa sangsi, apakah mereka itu yang disebut dengan kebebasan. Mereka bebas dengan rasa bosan di dada mereka lantas mereka keluarkan. Pada lakon yang lain, mereka merutuki diri mereka sendiri terhadap rasa bosan yang mendera. Mereka meringkuk dengan mengaduh kepada orang lain.

Aku tidak bisa seperti mereka. Tidak mampu menyuarakan rasa bosanku terhadap mereka yang menjadi sumber bosanku. Tidak pula mampu meringkuk mengaduh kepada orang lain terhadap mereka yang ingin aku umbar mengapa menjadi rasa bosanku. Aku tidak mampu....