Ayah, aku kini telah menjadi manusia, setelah sekian waktu hanyalah cairan dan gumpalan kecil yang lemah. Aku menjelma manusia kecil yang segala sesuatunya masih nestapa. Tetapi, Ayah, aku telah bersaksi atas keteguhan fitrahku. Rabb-ku bertanya “alastu birabbikum”, dan aku jawab dengan sempurna “Balaa syahidna”…
Itu artinya, aku telah bertekad untuk lahir dan hidup sebagai penyembah-Nya, Abdi-Nya yang tak kenal lelah memperjuangkan kebenaran-Nya. Aku sering mendengar bunda khusyu’ mengaji, di kala ia merasa letih dan hatinya sepi. Aku dengar ayat-Nya tentang istri Imran yang berjanji, bayi yang dikandungnya dinadzarkan sebagai anak suci pengabdi ilahi. Maka sebab itulah Ia lahir dengan nama Maryam, seorang hamba pengabdi.
Wajah mungilnya berseri, lalu diselimuti dan dikirim ke Baitul Maqdis yang diberkati. Ia hidup dalam naungan kasih sayang dan cinta orang-orang yang taat. Ia dibesarkan bersama lantunan taurat dan nasehat-nasehat.Ayah, aku iri. Andai saja engkau manjadikanku seorang anak pengabdi ilahi, seperti Maryam yang namanya harum mewangi. Aku ingin engkau mencintaiku sebagai titipan-Nya, dengan skenario dan arahan dari-Nya. Bukan makhluk kecil yang menjadi alat ambisi. Bukan sebagai boneka yang dipajang sana-sini.
Tapi Ayah, aku dengar suara percakapanmu di sore hari. Engkau mengandaikan aku menjadi seorang yang berprestasi. Engkau merencanakanku menjadi seorang kaya berdasi, seorang pejabat yang disegani, dan seorang tokoh yang digandrungi. Engkau merencanakanku sekolah di tempat mewah bergengsi. Engkau tak pernah mencita-citakanku sebagai pengabdi sejati. Engkau tak pernah menginginkanku tinggal di mihrab rumah suci… engkau bahkan tak akan mengijinkanku pergi memperjuangkan kalimat-Nya yang tinggi.Aku ingin segera lahir, Ayah, dengan hasrat terbelenggu. Dengan tangis sendu.
Cium sayang dari anakmu yang selalu kau rindu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar