Halaman

Rabu, 30 Mei 2012

Untuk yang Disana Menanti


Keterbatasan jarak dan bahasa buat ku pesimis!
keyakinan yang ku rasa hadir begitu saja dan buatku sangat begitu yakin...
Ketika aku ditanya kenapa tak satupun bisa ku jawab karena semua hadir perlahan dan pasti begitu yakin..
aku harap ni bukan permainan...!


Sungguh aku teringat kamu manakala anak panah meluncur deras darimu..
putihnya salju India pun tertetesi darahku..
ingin ku hadang setiap tebasan pedang..
Karena kilatan pedang-pedang itu laksana kilauan gigimu saat tersenyum..

Terkadang segala sesuatu tampak sebagai kebencian pada diri seseorang..
Padahal baginya adalah sebuah ketetapan jiwa..

Maaf jika puisi berdiri di atas pasar yang sedang lesu memanggil -manggil siapa gerangan yang bersimpati kepadaku,,
Mengapa tak kulihat ia jika ku datang menulisnya..
Sajak meratap dan ratapan syair membuatku pilu..
Sudah coba kutulis satu bait tentang cintamu..
Wahai pemuncak tahta cinta!
MaLu-malu syair menggangukkan kepalanya ke arahku sambil sesekali menyeka air mata,,

Cukuplah sebagai kesedihan,,
aku tinggal di suatu negeri..
di tinggal jauh kekasihku..
Ku arahkan pandanganku ke seluruh negeri,,
namun tak kulihat.. Wajaah kekasih yang ku damba...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar